BNPB Kunjungi Korban Letusan Gunung Lewotobi NTT, Berikan Kaki Palsu lalu Bantuan Penyelesaian

Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, mengunjungi korban yang digunakan dirawat akibat letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki dalam Daerah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Sebanyak lima orang masih dirawat dalam RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka, satu dalam antaranya menderita luka berat yang mengharuskan kakinya diamputasi.
“Kami meninjau pasien yang masih dirawat, per hari ini ada lima orang. Rata-rata kondisinya telah baik, sadar semua, kecuali ada satu yang digunakan luka berat harus diamputasi kakinya,” kata Suharyanto dikutipkan dari keterangan tertulisnya, Kamis, 7 November 2024.
Kunjungan Suharyanto itu dijalankan pada Rabu, 6 November 2024. Dia memberikan kaki palsu untuk korban yang tersebut harus diamputasi. Selain itu, BNPB juga menyiapkan bantuan obat-obatan untuk semua pasien yang tersebut dirawat di tempat RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka.
Adapun letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki terjadi pada Mulai Pekan dini hari, 4 November 2024. Bencana itu menyebabkan 10 warga meninggal, serta sekitar 10.000 korban mengungsi dan juga empat bandara tidaklah bisa jadi beroperasi. Untuk dampak erupsinya menyasar hingga ke enam desa di tempat Kecamatan Wulanggitang, yakni Desa Klatanlo, Hokeng Jaya, Nawokote, Boru, Boru Kedang kemudian Pululera juga satu desa pada Kecamatan Ile Bura yakni Dulipali.
Pemerintah Kota Flores Timur juga sudah ada menetapkan status tanggap darurat pascaerupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki pada Kecamatan Wulanggitang yang dimaksud memunculkan korban jiwa dan juga kehancuran pada rumah juga gedung di dalam tempat itu.
Suharyanto mengumumkan letusan gunung itu akan menjadi pengalaman berharga bagi publik untuk selalu waspada terhadap kejadian erupsi. Untuk selanjutnya, rakyat diharapkannya bisa saja setiap saat mematuhi dan juga mendengarkan instruksi dari BNPB maupun Badan Geologi untuk mitigasinya.
“Erupsi di dalam gunung itu terakhir terjadi pada 2002 sehingga mungkin saja publik menganggap di waktu 20 tahun tiada ada apa-apa, namun terjadi kali ini. Hal ini menjadi catatan agar penduduk untuk tak dapat lagi tinggal di tempat bawah radius 7 kilometer,” ujar Suharyanto.
Pilihan Editor: Badan Geologi Pelajari Perubahan Karakteristik Gunung Lewotobi Menyusul Letusan Besar 3 November






