Indonesia-Asia Pasifik bahas aksi iklim pendekatan berbasis laut

Ibukota – Indonesia dengan negara-negara Asia Pasifik mendiskusikan langkah-langkah kolaboratif dalam tingkat regional guna menghadapi tantangan di pembaharuan iklim di kawasan melalui solusi inovatif dengan pendekatan berbasis laut pada Lokal Dialogue on Ocean-Based Climate Action (OBCA).
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan lalu Ruang Laut Kementerian Kelautan kemudian Perikanan (KKP) Victor Gustaaf Manoppo menyampaikan aksi iklim berbasis laut menawarkan kesempatan besar untuk menguatkan ketahanan lingkungan serta sosial, juga menyokong keberlanjutan perekonomian warga pesisir.
"Indonesia percaya dengan mengoptimalkan peran laut pada mitigasi pembaharuan iklim ke kawasan ini dapat menciptakan solusi yang digunakan berdampak positif bagi generasi mendatang juga menguatkan upaya di mempercepat pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), teristimewa SDG 13 (aksi Iklim) juga SDG 14 (kehidupan di bawah air),” ujar Victor disitir dari keterang yang digunakan diterima dalam Jakarta, Rabu.
Sebagai bagian dari OBCA, lanjut dia, Indonesi juga bekerja serupa dengan negara-negara kepulauan lainnya, di antaranya Fiji juga Maladewa, di menyusun resolusi sama-sama untuk mempercepat aksi iklim berbasis laut ke tingkat internasional.
Pada 2023, katanya, Nusantara terlibat menginisiasi Resolusi 79/2 UN ESCAP, yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan komitmen negara-negara anggota pada melindungi serta melestarikan sumber daya laut sebagai bagian dari upaya mitigasi inovasi iklim.
Victor juga menyampaikan Tanah Air sebagai negara kepulauan terbesar menegaskan kembali komitmennya untuk memainkan peran penting di jadwal global.
Di sela-sela jadwal OBCA, ia juga mengawasi Delegasi Republik Tanah Air melakukan perjumpaan bilateral dengan United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) yang mana mengkaji isu penting terkait kebijakan kelautan juga iklim Indonesi dan juga prospek kerja identik internasional.
Dalam pertarungan tersebut, ia menjelaskan lima prioritas acara kelautan, satu di antaranya target pengembangan kawasan konservasi laut yang tersebut mencapai 30 persen pada 2045.
Saat ini, Indonesi telah terjadi berhasil mencatatkan sekitar 10 persen dari total target tersebut, didukung oleh strategi nasional yang digunakan komprehensif.
Executive Secretary UNESCAP Armida Salsiah Alisjahbana menekankan bahwa isu kelautan bersifat lintas batas sehingga membutuhkan kerja mirip yang tersebut erat pada tingkat regional.
"Diharapkan Nusantara dapat berperan sebagai pemimpin di kerja sebanding antar negara, teristimewa pada puar 1 kemudian pilar empat yang digunakan dibahas pada Wilayah Dialogue ini, termasuk kerja sebanding South-South Cooperation lalu kolaborasi dengan negara mitra lainnya,” katanya.
Artikel ini disadur dari Indonesia-Asia Pasifik bahas aksi iklim pendekatan berbasis laut






